Jumat, 13 Januari 2012

Pengembangan Kedelai di Kawasan Lahan Hutan Jati : Upaya Kongret Mendukung Swasembada Kedelai 2014

Dengan produktivitas kedelai yang bisa mecapai 3 ton/ha, Menteri Pertanian  Dr. Suswono optimis sewasembada kedelai pada 2014 akan tercapai. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pertanian pada acara panen perdana kedelai disela-sela hutan jati di Desa Jenggrik, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi (9/1/2012).
Kementerian Pertanian menyerahkan  benih kedelai kelas FS sebanyak 3 ton kepada ketua Kelompok LMDH dari KPH Ngawi, Bojonegoro dan Blitar.  Pengembangan kedelai pada MH I (Oktober/Nopember – Januari/Februari) memiliki nilai strategis, karena dapat menghasilkan  benih sumber pada MH II (Februari-Mei).   Apabila sebagian hasil produksi (70% nya) tersebut dijadikan benih, maka dari luasan 8,5 ha akan diperoleh benih kelas SS sebanyak 8.500 kg yang dapat di tanam untuk luasan 213 ha, dan diperkirakan dapat menghasilkan benih ES sebanyak 213.000 kg. 
Menteri Pertanian mengharapkan agar para petugas perhutani dan petani LMDH mampu menerapkan teknologi budidaya kedelai di kawasan hutan dan akan memberikan tambahan produksi kedelai nasional.

Kementerian Pertanian berkerjasama dengan Kementerian Kehutanan dan Perhutani melaksanakan Gelar Teknologi Budidaya Kedelai di kawasan hutan jati dalam rangka a) mendiseminasikan inovasi teknologi kepada pengguna, khususnya di lahan hutan jati, b) melaksanakan Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Kemitraan (GP3K), c) meningkatkan pendapatan petani sekitar hutan (pesanggem = petani penggarap di kawasan hutan), dan d) pelestarian kesuburan lahan hutan karena dampak dari tanaman kedelai. Selain itu, pengembangan teknologi budidaya kedelai di kawasan hutan sangat mendukung program pengadaan benih melalui jalur benih antar lapang antar musim yang di kenal dengan Program JABALSIM.
Luas kawasan hutan yang dikelola Perum Perhutani memiliki potensi untuk ditanami tanaman pangan (padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau) sekitar 169.000 ha dengan pola tumpang sari, yang sebarannya sebagai berikut: 1) 49.000 ha di Unit I Jawa Tengah, 2) 78.000 ha di Unit II Jawa Timur, dan 3) 42.000 ha di Unit III Jawa Barat. Sedangkan potensi lahan dibawah tegakan yang dapat ditamai ubi-ubian (ubijalar dan ubi potensial lainnya) mencapai 350.000 ha. Seluruh areal tersebut apabila dibudidayakan tanaman pangan secara tumpang sari akan menambah produksi pangan daerah dan sekaligus memberikan tambahan pendapatan kepada petani yang berada di kawasan hutan tersebut.
Kenapa ditanami kedelai? Tujuannya adalah meningkatkan produksi kedelai nasional dan salah satu upaya mencapai swasembada kedelai tahun 2014. Tanaman ini sangat bermanfaat karena berpotensi menyuburkan tanah. Dalam satu musim tanam, kedelai menyumbang 44-485 kg N/ha, 7,6-22,5 kg/ha P2O5, 20,0- 92,6 kg/ha K2O, 25,4-51,4 kg/ha Ca yang berasal dari hasil dekomposisi daun, batang, dan akar tanaman kedelai. Tanaman jati membutuhkan unsur P dan Ca dalam jumlah besar untuk pertumbuhan dan pembentukan kualitas kayu yang baik. Dengan demikian penanaman kedelai di antara tanaman jati dalam sistem tumpangsari akan memperbaiki kesuburan lahan hutan. Disamping itu keuntungan lain sistem tumpangsari tanaman pohon jati + kedelai memiliki kelebihan: (a) pemanfaatan lahan lebih optimal  yang ditunjukkan oleh nisbah kesetaraan lahan (NKT) atau Land Equivalent Ratio (LER) yang meningkat dari 1,0 menjadi 1,3-1,7, (b) Produk panen beragam,  (c) lebih cepat memperoleh penghasilan (kedelai panen umur 76-80 hari), (d) memperoleh tambahan hasil dari tanaman yang ditanam, (e) mencegah erosi, dan (g) menyediakan pakan ternak.
Gelar teknologi budidaya kedelai di lahan hutan jati pada awalnya dilaksanakan pada bulan Februari-April tahun 2011 (MK I) di wilayah KPH Ngawi. Kegiatan ini bekerjasama dengan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Wonodadi Lestari Desa Jenggrik, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi seluas 6,5 ha, melibatkan 17 petani penggarap (pesanggem). Varietas kedelai yang ditanam adalah Grobogan, Argomulyo, Kaba, dan Wilis. Tanaman jati di wilayah LMDH tersebut berumur 3-4 tahun dengan tinggi 4-7 m dan jarak tanam sekitar 3 m x 3 m, dengan tingkat naungan 34,3-73,4% (rata-rata 51,4±9,4%). Kisaran hasil kedelai yang di peroleh antara 1,22 – 1,87 t/ha.
Pada musim hujan tahun 2011/2012 dilakukan gelar teknologi budidaya kedelai di kawasan hutan jati di KPH Ngawi pada petak 57F dan 58B (umur jati 1 tahun) di Desa Sidolaju, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi seluas 8,5 ha yang dikelola oleh 35 orang pesanggem (petani penggarap) dari LMDH Wonorukun Lestari Desa Sidolaju. Varietas kedelai yang ditanam terdiri atas Anjasmoro (1,0 ha), Grobogan (1,9 ha), Argomulyo (2,6 ha), Burangrang (1,0 ha), Wilis (1,0 ha), dan Kaba (0,9 ha). Inovasi teknologi yang diterapkan petani adalah:
  1. Persiapan lahan dengan olah tanah ringan.
  2. Benih kedelai berkualitas (kelas benih BS) varietas Grobogan, Argomulyo (berbiji besar, umur genjah), Burangrang (berbiji besar, umur sedang), Anjasmoro (berbiji besar, umur dalam), Wilis, dan Kaba (berbiji sedang, umur dalam).
  3. Penanaman dengan cara tugal, jarak tanam 40 cm x 15-20 cm, 2-3 biji/lubang. Perlakuan benih dengan insektisida berbahan aktif theametoxam (merek dagang Cruiser).
  4. Pupuk organik SANTAP dosis 600 kg/ha diaplikasikan saat tanam dengan cara disebar.
  5. Pemupukan dengan 250 kg/ha Phonska + 50-100 kg/ha SP36, diaplikasikan saat tanaman berumur 15 hari dengan cara disebar dalam larikan.
  6. Pengendalian gulma pada umur 15-20 hari (dengan herbisida dan manual) dan umur 45 hari secara manual.
  7. Pengendalian hama dan penyakit disesuaikan dengan macam dan intensitas serangannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar