Thursday, 3 November 2011

CARA MUDAH PERBANYAKAN SIRIH MERAH

Daun Sirih Merah yang merupakan perpaduan warna hijau dan merah, serta dihiasi garis-garis urat daun semu kelabu memiliki daya tarik tersendiri bagi para penggemar tanaman hias. Tanaman ini umumnya dikenal sebagai tanaman obat. Meski dapat diperbanyak dengan cara stek batang, ternyata terjadinya kegagalan dalam perbanyakan banyak dikeluhkan orang.  "tingkat keberhasilan dibanding kegagalannya dapat mencapai 1 : 5". Kata Supardi warga Mlati Sleman pada saat berkunjung ke Stan BPTP Yogyakarta di Pameran Potensi Daerah Sleman 2007. Kegagalan pada umumnya terjadi karena setelah dipotong stek langsung ditanam sehingga beberapa hari kemudian terjadi pembusukan batang dan lama kelamaan tanamanpun mati. Proses pembusukan akan berlangsung lebih cepat jika kondisi tanah terlalu banyak mengandung air. Untuk menghindari kebusukan, stek yang telah dipotong perlu dibiarkan selama 2-3 hari agar getah yang terdapat dibekas luka potongan mengering, kemudian barulah ditanam. Cara lainnya adalah dengan merundukkan batang yang ada akarnya ke tanah kemudian ditimbun dengan tanah.  Setelah akar tumbuh banyak, stek dapat dipotong dan bekas luka ditetesi dengan lilin, sebaiknya tanaman dibiarkan dulu hingga 7-10 hari selanjutnya bisa dipindah ke pot lain.
Cara lain yang lebih mudah adalah menggunakan gelas plastik bekas air minum / aqua. Bagian dasar plastik dilubangi sebesar batang sirih merah, kemudian guntinglah bagian sisi gelas dari atas hingga ke dasar yang berlubang. Pilih bagian batang yang berakar dan masukkan ke dalam gelas plastik lewat belahan yang tergunting, selanjutnya belahan pada sisi gelas plastik direkat kembali menggunakan isolatif plastik bening. Nah, kini tinggal memasukkan tanah kedalam gelas plastik hingga akar tertutup dengan baik. Penyiraman dilakukan jangan terlalu basah, sekedar lembab saja sudah cukup, sehingga dapat dilakukan 2 - 3 hari sekali.  jika akar telah tumbuh banyak, akan tampak memutih dan bisa dilihat dari tepi dinding gelas plastik (biasanya sekitar 3 bulan), stek dapat dipotong . Dengan cara ini begitu stek dipotong dapat langsung dipindah ke pot lain, tetapi jangan lupa mengolesi bekas luka potongan dengan tetesan lilin untuk mencegah pembusukan .

PABRIK DAGING DI PEKARANGAN

Penyediaan pangan bergizi dalam kehidupan sehari-hari  identik dengan penyediaan protein hewani yang dapat diperoleh dari daging, telur dan susu. Namun penyediaannya secara rutin sering terkendala oleh tingkat harga yang relatif mahal. Beberapa tahun lalu sebelum merebaknya penyakit flu burung, memelihara ayam kampung sangat membantu suplai kebutuhan gizi maupun tambahan pendapatan keluarga, tetapi belakangan ini  minat memelihara ayam kampung dalam skala besar mulai menurun akibat kekhawatiran tertular flu burung.
                Salah satu komoditas yang mampu menghasilkan daging secara rutin adalah ternak kelinci, yang sejak tahun 1980 telah diperkenalkan dengan promosi yang cukup gencar sebagai sumber protein , bahkan pada suatu acara di Binagraha tahun 1983 daging kelinci menjadi salah satu menu hidangan yang dinikmati presiden Soeharto. Menurut bentuk tubuh dan berat tubuhnya ternak kelinci terbagi 3 tipe, yaitu tipe kecil, tipe sedang dan tipe besar. Kelinci lokal Indonesia tergolong tipe kecil. Ternak kelinci tipe sedang yang banyak dipelihara di Indonesia antara lain Vlaamse reus, California, Yamamoto. Jika ditinjau berdasarkan fungsinya ternak kelinci terbagi menjadi 2 golongan, yaitu kelinci hias (Rex, Rex pappilon, Angora) dan kelinci pedaging.
Jika ingin menghasilkan daging yang bisa dikonsumsi oleh keluarga secara rutin maka sebaik memelihara kelinci pedaging (vlaamse reus, california, yamamoto, New Zealand White dll), Mengapa ? karena kelinci jenis ini sudah dapat dikawinkan pertama kali pada umur 6 bulan, lama kebuntingannya hanya sekitar 30-33 hari, dapat dikonsumsi pada umur 4 bulan yang mampu mencapai berat hidup 2 kg atau setara dengan 1 – 1,1 kg daging siap konsumsi, yang cukup untuk dinikmati oleh satu keluarga beranggotakan 3 – 4 jiwa.

Monadenium

Sekilas tanaman hias ini memang mirip kaktus, tetapi sesungguhnya monadenium masih tergolong famili Euphorbiaceae yang habitat aslinya banyak ditemui di TanzaniaBeberapa jenis monadenium antara lain monadenium spectabilis (Lihat foto), monadenium guenthery, monadenium heteropadum, monadenium ellenbechii, monadenium schubeii, dan monadenium ritchiei. Meski masih tergolong jarang dan belum begitu dikenal oleh masyarakat tetapi monadenium spectabilis mulai muncul di beberapa stan pameran tanaman hias Yogyakarta.
Keterangan foto : monadenium spectabilis (Kanan atas), monadenium ellenbechii (kanan atas), monadenium schubeii (kanan bawah)

CARA MUDAH MENGATASI BUSUK BATANG PADA ADENIUM

Oleh : Rudy Harwono

Dari hari ke hari Adenium makin populer dan diminati penggemar tanaman hias. Ditinjau dari segi estetika keindahan adenium  tergolong sempurna,  tak hanya berbagai variasi bunganya yang bisa dinikmati, akar dan batangnya pun memiliki penampilan yang mempesona. Di habitat aslinya Adenium tumbuh di gurun pasir sehingga tanaman ini dikenal tahan kekeringan, melalui proses domestikasi penanaman dialihkan ke dalam pot meski masih menggunakan pasir sebagai media utama yang dikombinasikan dengan media arang sekam dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1, dalam perkembangan selanjutnya pasir Malang mulai banyak digunakan karena lebih ringan dibanding pasir biasa dan cukup baik untuk pertumbuhan Adenium. Jadi tanaman ini memang menghendaki struktur tanah yang poros, sehingga jika disiram air terlalu banyak lama kelamaan akar dan batangnya akan melunak, kemudian membusuk dan menyebabkan kematian tanaman. Tak perlu panik kalau anda menemui kejadian seperti ini, cabutlah tanaman dengan hati-hati dari potnya, bersihkan akar dari tanah dengan menggunakan kuas, kemudian gantunglah tanaman ditempat yang teduh, biarkan hingga 7-10 hari hingga batang mulai mengeras kembali. Biasanya batang akan tampak mengisut. Selanjutnya siapkan media tanam baru yang kering, dan Adenium sudah dapat ditanam kembali, biarkan beberapa hari ditempat teduh tanpa disiram hingga cukup kuat untuk ditempatkan pada sinar matahari penuh. Penyiraman berikutnya dilakukan secukupnya saja, jika tanah masih terasa lembab sebaiknya tak perlu disiram.

PENYULUH PERTANIAN PERLU KUASAI CYBERTECH

Gaung kebangkitan penyuluhan pertanian di Indonesia telah dikumandangkan menteri pertanian pada tahun 2006 di Guci- Tegal Jawa Tengah. Pertemuan yang dihadiri 2000 orang penyuluh dan Kontaktani dari berbagai propinsi di indonesia ini sarat dengan acara-acara metodologis yang erat kaitannya dengan penyuluhan pertanian, bagaikan  nostalgia era swasembada pangan ditahun 80 an. Realisasi terhadap bangkitnya penyuluhan pertanian itu sendiri telah ditindaklanjuti dengan direkrut nya penyuluh pertanian swakarsa agar mampu memenuhi kebutuhan petani dibidang informasi yang berkaitan dengan budidaya maupun teknologi lainnya. Disisi lain, seiring dengan kemajuan zaman diseminasi teknologi pertanian telah dilakukan melalui berbagai media, antara lain melalui berbagai situs. Dengan kata lain apapun teknologi yang diperlukan kini cukup tersedia dan mudah diakses melalui internet, keuntungannya akses bisa dilakukan  kapan saja dan dari manapun tanpa kendala ruang dan waktu.Tetapi siapkah sumberdaya yang ada untuk memanfaatkan semua ini ? Hampir dipastikan bahwa ketidaksiapan itu akan mencapai angka persentase yang sangat tinggi. Meski sebagian orang berpendapat bahwa di setiap instansi lingkup pertanian terlebih dahulu perlu dilengkapi perangkat komputer dan sarana penghubung lainnya untuk akses internet, namun setidaknya keberadaan warnet telah cukup tersebar di banyak kabupaten, sehingga tak cukup alasan untuk tidak menguasai pengetahuan tentang dunia maya ini. Jika ditinjau dari faktor usia, beberapa penyuluh senior seolah pasrah terhadap perkembangan teknologi informasi yang dinilai merupakan teknologi yang sulit dipelajari, resikonya ketika menghadapi permasalahan yang ada kaitannya dengan teknologi pertanian mereka hanya mengandalkan pengalaman dan teori-teori lama bekal dari pendidikan formal, atau setidaknya dibutuhkan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu untuk mencari teknologi yang dibutuhkan pada brosur atau jurnal. Sehingga ketika kebutuhan itu ditemukan sudah tak relevan lagi untuk diterapkan. Jadi kenapa tidak memilih yang lebih cepat ?? tinggal menekan tombol-tombol komputer informasi yang diperlukanpun datang lebih cepat, syaratnya jangan segan ataupun malu untuk belajar, meski harus banyak bertanya pada para yunior. Majulah penyuluh pertanian Indonesia ! (RH)

CARA MEMBUAT EMPING GARUT

Umbi tanaman garut (Marantha arundinacea) adalah sumber karbohidrat yang memiliki kandungan indeks glisemik rendah dibanding jenis umbi-umbian yang lain, sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan terutama untuk penderita diabetes atau penyakit kencing manis. Tanaman garut dapat dijumpai di hampir seluruh wilayah Indonesia, dapat tumbuh dengan baik pada lahan ternaungi sehingga gampang  dibudidayakan dan dipelihara. Budidaya secara intensif dapat menghasilkan rata-rata 21 ton umbi /ha. Harga umbi basah Rp.1.000 - Rp1.500/kg. agaknya cukup potensial untuk menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. Umbi garut cocok untuk pengembangan agribisnis pedesaan, biasanya digunakan oleh masyarakat tani untuk membuat emping, untuk menghasilkan 1 kg emping garut dibutuhkan umbi basah sebanyak 5 kg dengan  harga jual Rp.13.000 -15.000/kg emping. Limbah produksi emping masih dapat dimanfaatkan untuk membuat pati. Potensi umbi garut sebagai sumber karbohidrat dapat menghasilkan rendemen pati 15%-20%.


 Proses pembuatan emping garut
1.       Pilih umbi garut berdiameter 2-3 cm
2.       Kupas kulitnya dan dicuci
3.       Potong-potong setebal  + 1cm
4.       Rebus irisan garut dan tambahkan bumbu (1,5% garam dan 2%bawang putih)
5.       Setelah masak, angkat dan tiriskan
6.         Cetak dengan cara pipihkan di atas lembarab plastik (seperti pada pembuatan emping melinjo)
7.       Dikeringkan, setelah kering lakukan pengemasan


Berdasarkan Hasil pengkajian di Yogyakarta, setiap keluarga tani yang mengusahakan emping garut memiliki mampu mengelola 15-20 kg umbi basah per hari atau menghasilkan 3-4 kg (rendemen emping 20%). Artinya tiap keluarga tani tersebut bisa memperoleh hasil penjualan kotor Rp. 40.500,- hingga Rp.60.000 per hari produksi, sedangkan biaya  produksinya Rp. 10.000.  Bagi masyarakat tani, terutama tenaga kerja wanita, Hal ini dirasakanlebih menguntungkan dibanding bekerja di luar aktivitas pertanian yaitu sebagai tenaga buruh bangunan atau pekerjaan kasar lainnya yang hanya menghasilkan upah Rp 15.000 – Rp 20.000,- per hari.
Dari aspek pemasaran emping garut memiliki peluang cukup baik di pasar lokal maupun luar provinsi antara lain Solo, Surabaya, Jakarta bahkan sampai keluar jawa (Sulawesi dan Kalimantan). Jadi tunggu apa lagi ?

Hadapi Perubahan Iklim, Kementan Kembangkan Konsep ICEF

JAKARTA – Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Ir. Hari Priyono, MS mewakili Menteri Pertanian secara simbolis menerima Peraturan Presiden No 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (Perpres RAN – GRK) dari Kepala Bapennas, Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, MA di Jakarta, baru – baru ini. Peraturan Presiden tentang RAN- GRK mencakup penurunan emisi di 5 bidang utama antara lain yaitu pertanian, kehutanan dan lahan gambut, energi dan transportasi, serta industri dan pengelolaan limbah. Diharapkan dengan terbitnya Perpres ini akan memberikan arah dan landasan bagi semua Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah terkait langkah terpadu bersama masyarakat dan pelaku usaha dalam upaya penurunan emisi GRK. Perpres mengenai RAN - GRK yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 20 September 2011 ini menunjukan komitmen Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim. Menurut Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Indonesia sangat rentan terhadap naiknya permukaan air laut dan banjir, dengan pola cuaca yang tidak menentu tersebut tentu akan berdampak pada produksi pertanian dan perikanan yang menjadi penopang hidup masyarakat, sementra itu pada saat yang bersamaan, Indonesia menjadi kontributor emisi global gas rumah kaca yang cukup signifikan. Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA pada kesempatan terpisah mengatakan, bahwa sebagai respon terhadap isu perubahan iklim tersebut, pemerintah berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dengan menetapkan target penurunan emisi sebesar 26% dengan business as usual dan 41% dengan bantuan internasional pada tahun 2020. Berkaitan dengan pengaruh perubahan iklim terhadap sektor pertanian, Mentan telah menyiapkan konsep ICEF (Indonesian Carbon Efficient Farming) atau Sistem Pertanian Efisien Karbon untuk menghadapinya. ICEF merupakan sistem pertanian yang memanfaatkan secara optimal (efisien) karbon yang dikandung bahan organik sisa tanaman dan limbah ternak sehingga dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan produktivitas, pendapatan petani dan efisiensi energi serta penurunan emisi gas rumah kaca dan perbaikan lingkungan. ”Diharapkan, dengan penerapan ICEF maka masalah yang ditimbulkan akibat penggunaan pupuk buatan, energi tak terbarukan dan emisi GRK serta pencemaran lingkungan dapat dikurangi,” kata Mentan.Sumber: Biro Umum dan Humas